Break Even Point (BEP) adalah salah satu konsep penting dalam akuntansi manajemen yang hampir selalu muncul di mata kuliah, ujian, bahkan studi kasus bisnis. Dengan memahami BEP, kita bisa mengetahui titik impas, yaitu kondisi ketika total pendapatan sama dengan total biaya — tidak untung dan tidak rugi.
Apa Itu Break Even Point (BEP)?
Break Even Point (BEP) adalah titik di mana perusahaan tidak mengalami laba maupun rugi. Pada titik ini Total Pendapatan = Total Biaya. BEP bisa dihitung dalam bentuk unit produk maupun nilai penjualan (rupiah).
Komponen dalam Perhitungan BEP
- Biaya Tetap (Fixed Cost): biaya yang jumlahnya tetap meskipun volume produksi berubah, seperti sewa gedung dan gaji manajer.
- Biaya Variabel (Variable Cost): biaya yang berubah sesuai jumlah produksi, seperti bahan baku.
- Harga Jual per Unit: harga produk yang dijual ke konsumen.
Rumus Break Even Point (BEP)
Rumus BEP
BEP dalam Unit
BEP dalam Rupiah
*Margin Kontribusi = (Harga Jual – Biaya Variabel) / Harga Jual
Contoh Soal
Contoh 1 – BEP Unit (Usaha Makanan)
Sebuah usaha donat rumahan memiliki biaya tetap per bulan sebesar Rp4.000.000 yang terdiri dari sewa tempat dan gaji karyawan tetap.
Biaya untuk membuat satu donat adalah Rp2.000, sedangkan donat dijual dengan harga Rp5.000 per buah.
Ditanya: Berapa donat yang harus dijual agar usaha tidak rugi?
Penyelesaian
Margin kontribusi per donat:
BEP unit:
Artinya: Usaha harus menjual minimal 1.334 donat per bulan agar mencapai titik impas.
Contoh Soal 2 – BEP dalam Rupiah
Sebuah kedai jus memiliki biaya tetap bulanan Rp6.000.000.
Harga jual per gelas jus adalah Rp12.000, dengan biaya variabel Rp7.000 per gelas.
Ditanya: Berapa nilai penjualan minimal agar tidak rugi?
Penyelesaian
Margin kontribusi per gelas:
Margin kontribusi (%):
BEP rupiah:
Artinya: Kedai harus mencapai penjualan minimal Rp14.400.000 per bulan untuk impas.
Contoh 3 – BEP dengan Target Laba (Usaha Kaos)
Sebuah usaha sablon kaos memiliki biaya tetap Rp10.000.000 per bulan.
Harga jual satu kaos Rp80.000, dengan biaya variabel Rp50.000 per kaos.
Pemilik usaha ingin memperoleh laba Rp6.000.000 per bulan.
Ditanya: Berapa kaos yang harus dijual?
Penyelesaian
Margin kontribusi per kaos:
Unit yang harus dijual:
Artinya: Agar mendapatkan laba Rp6.000.000, usaha harus menjual 534 kaos per bulan.
Contoh 4 – Analisis BEP untuk Pengambilan Keputusan
Sebuah usaha fotokopi memiliki:
- Biaya tetap: Rp3.000.000 per bulan
- Biaya variabel: Rp150 per lembar
- Harga jual: Rp500 per lembar
Pemilik ingin tahu apakah target penjualan 10.000 lembar per bulan sudah menghasilkan laba.
Penyelesaian
Margin kontribusi per lembar:
BEP unit:
Karena target penjualan 10.000 lembar > 8.572 lembar, maka usaha sudah melewati BEP.
Laba yang diperoleh:
Artinya: Dengan penjualan 10.000 lembar, usaha memperoleh laba sekitar Rp499.800.
Manfaat Analisis BEP
Dengan BEP, manajemen dapat:
✔ Menentukan jumlah minimal penjualan
✔ Merencanakan target laba
✔ Menilai kelayakan usaha
✔ Membantu pengambilan keputusan produksi dan harga
Keterbatasan BEP
Mengasumsikan harga jual dan biaya tetap
Tidak memperhitungkan perubahan pasar
Kurang akurat untuk perusahaan multi-produk
Kesimpulan
Break Even Point (BEP) membantu kita memahami batas minimal penjualan agar usaha tidak mengalami kerugian. Dengan mengetahui titik impas, pelaku usaha bisa menentukan strategi harga, merencanakan jumlah produksi, serta menetapkan target laba secara lebih realistis. Konsep ini bukan hanya penting dalam perkuliahan akuntansi manajemen, tetapi juga sangat berguna dalam praktik bisnis sehari-hari, terutama bagi pelaku UMKM.
Kalau kamu sedang mempelajari topik lain seputar perhitungan keuangan usaha, kamu juga bisa membaca artikel terkait di Pandai Akuntansi seperti pembahasan tentang uang rusak yang masih bisa ditukar di Bank Indonesia, serta panduan praktis “Pajak UMKM 0,5%: Syarat, Cara Menghitung, & Contoh” agar pengelolaan usahamu makin rapi dari sisi biaya hingga kewajiban pajaknya.
Dengan memahami BEP dan pajak usaha sekaligus, kamu jadi punya gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana menjaga bisnis tetap sehat dan berkelanjutan.

