Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan atau sering disebut BPHTB adalah pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan. (Pasal 1 angka 41 Undang-Undang (UU) 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah)
Bagaimana cara menghitungnya? Simak contoh soal berikut ini!
Hamid memperoleh warisan dari ayahnya sebidang tanah dan bangunan di atasnya dengan nilai pasar/ Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) yaitu sebesar Rp. 700,000,000. Terhadap tanah dan bangunan tersebut telah diterbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Bumi dan Bangunan pada tahun yang bersangkutan mendaftar ke Kantor Pertahanan setempat dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sebesar Rp. 900,000,000. Apabila di kota Palembang setempat menetapkan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) dalam hal waris sebesar Rp. 300,000, 000, hitunglah besarnya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) terutang!
Pembahasan: Diketahui: NPOP = Rp. 700,000,000 NJOP = Rp. 900,000,000 NPOPTKP = Rp. 300,000,000 Maka Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP)nya adalah sebagai berikut: NPOPKP = NJOP1 - NPOPTKP NPOPKP = Rp. 900,000,000 - Rp. 300,000,000 NPOPKP = Rp. 600,000,000 Selanjutnya kita hitung BPHTB terutang BPHTB terutang = 5% x NPOPKP BPHTB terutang = 5% x Rp. 600,000,000 BPHTB terutang = Rp. 30,000,000 Kemudian karena dalam kasus ini Objek Pajaknya berupa hibah/waris maka BPHTB terutangnya kita kalikan 50% (Sesuai ketentuan Pasal 2 PP no. 111 th. 2000 Tentang Pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) = 50% x Rp. 30,000,000 = Rp. 15,000,000 Jadi, BPHTB terutang yang harus dibayarkan oleh Hamid sebesar Rp. 15,000,000.
Itulah contoh perhitungan untuk BPHTB hibah/waris. Semoga penjelasannya dapat dipahami dengan mudah.
Apabila ada pertanyaan, silahkan ajukan di kolom komentar🥰
- Pada bagian ini menggunakan nilai NJOP karena pada kasus ini nilai NJOPnya lebih besar dibanding nilai NPOP. Berlaku untuk sebaliknya ↩︎

